Hadits

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Shahih Bukhari
77 Kitab, 3761 Bab, 7008 Hadits
Shahih Muslim
56 Kitab, 1348 Bab, 5362 Hadits
Sunan Abu Daud
35 Kitab, 1879 Bab, 4590 Hadits
Sunan Tirmidzi
49 Kitab, 2001 Bab, 3891 Hadits
Sunan Nasa’i
51 Kitab, 2499 Bab, 5662 Hadits
Sunan Ibnu Majah
32 Kitab, 1536 Bab, 4332 Hadits
Sunan Darimi
24 kitab, 1368 Bab, 3367 Hadits
Muwatha’ Malik
32 Kitab, 650 Bab, 1595 Hadits
Musnad Ahmad
14 Kitab, 1275 Bab, 26363 Hadits

—ooOoo—

{ KLASIFIKASI HADITS }

I.  Berdasarkan Tempat Penyandarannya.
II.  Berdasarkan Jumlah Perawinya.
III. Berdasarkan Kualitas Sanad dan Matan.

,

I. KLASIFIKASI HADITS BERDASARKAN TEMPAT PENYANDARANNYA.

Berdasarkan tempat penyandarannya Hadits terbagi 4:
1. Hadits Qudsi.
2. Hadits Marfu’
3. Hadits Mauquf.
4. Hadits Maqthu’.

1. Hadits Qudsi.

Hadits Qudsi adalah nisbah/ sesuatu yang dihubungkan kepada Al-Quds (yang Suci), yaitu: Alloh SWT.

“Setiap Hadits yang perkataannya disandarkan oleh Rasululloh SAW kepada Alloh Azza wa jalla”.

Contoh:

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Hadits Nabawi:

Hadits Qudsi memiliki ciri-ciri…

Sedangkan Hadits Nabawi tidak ada pernyataan seperti kalimat di atas; jadi Hadits Nabawi nisbah kepada nabi SAW dan periwayatannya juga berasal dari Nabi SAW.

Perbedaan Hadits Qudsi dengan Al-Qur’an:

* Al-qur’an lafadz dan maknanya berasal dari Alloh SWT;  Hadits Qudsi maknanya berasal dari Alloh SWT, tetapi lafadznya dari Nabi SAW.
* Al-Qur’an hukum membacanya ibadah,; membaca Hadits Qudsi bukan ibadah.
* Periwayatan Al-Qur’an disyaratkan harus muttawatir; Hadits Qudsi tidak disyaratkan harus muttawatir.
* Al-Qur’an adalah mu’jizat Nabi SAW, terpelihara dari terjadinya perubahan dan pertukaran serta tidak boleh diriwayatkan secara makna; Hadits Qudsi bukan mu’jizat, lafadz dan susunan kalimat dapat berubah, dan kemungkinan diriwayatkan secara makna.
* Al-Qur’an dibaca dalam sholat; Hadits Qudsi tidak.

2. Hadits Marfu’.

Hadits Marfu’ adalah:

“Hadits yang disandarkan kepada Nabi SAW berupa ucapan, perbuatan atau ketetapan dan sifat-sifatnya”.

Hukum Hadits Marfu’.

Tergantung kepada kualitas periwayatan, yaitu bersambung atau tidaknya sanad (Shahih, Hasan atau Dha’if).

3. Hadits Mauquf.

Hadits Mauquf adalah:

“Hadits yang disandarkan kepada sahabat, berupa perkataan, perbuatan atau ketetapan”.

Contoh:

Ibnu Umar ucapkan itu setelah menceritakan bahwa Nabi SAW bersabda sambil memegang bahunya:

“Jadilah di dunia ini bagaikan orang asing atau orang yang lewat di jalanan”.

Hukum Hadits Mauquf.

Dapat sederajat dengan status hukum Marfu’ apabila:

* Tentang masalah yang bukan lapangan ijtihad, Tidak dapat ditelusuri melalui pemahaman secara kebahasaan dan tidak bersumber dari ahli kitab, misalnya: – Berita masa lalu tentang kejadian manusia – Berita tentang masa yang akan datang, seperti Kiamat, Huru-hara, …etc.

* Perbuatan Sahabat yang bukan lapangan ijtihad dalam ibadah.

* Perkataan atau perbuatan yang disandarkan kepada Nabi SAW.

“Adalah Kami berasal pada masa Rosulullohi SAW”.

* Perkataan…

* Penafsiran Sahabat yang berkaitan dengan Sababunnuzul ayat Al-Qur’an, misalnya kata Jabir r.a.

“Siapa yang menggauli isterinya dari belakang, maka anaknya akan lahir juling matanya”.

Maka setelah itu turunlah ayat Al-Qur’an, S. 2:223 :

“Isteri-isterinu adalah sawah ladangmu”.

Jadi Hukum Hadits Mauquf bila berstatus Marfu’ dan berkwalitas Shahih atau Hasan, maka hukumnya sama dengan Hadits Marfu’ yang Shahih dan Hasan.

4. Hadits Maqthu’.

Hadits Maqthu’ adalah:

“Yaitu Hadits yang berhenti penyandarannya pada Tabi’in berupa perkataan atau perbuatannya”.

Contoh:

Perkataan Hasan Al-Bisri tentang shalat dibelakang ahli bid’ah;  “Shalatlah dengan dia, maka baginya dosa atas bid’ahnya”.

,

,

II. KLASIFIKASI HADITS BERDASARKAN JUMLAH PERAWINYA.

Ditinjau dari segi jumlah perawinya, Hadits terbagi 2:
1. Hadits Mutawwatir.
2. Hadits Ahad.

1. Hadits Mutawwatir.

a). Ta’rif/ Pengertian Hadits Mutawwatir.
Menurut Ulama Hadits, Hadits Mutawwatir adalah:

“Hadits yang diriwayatkan oleh orang banyak, sehingga menurut adab mustahil mereka bersepakat untuk berdusta”.

Nuruddin Atar merinci definisi yang dikemukakan oleh Ibnu Shalah:

“Kabar tentang sesuatu yang dapat dijangkau oleh panca indera, yang diriwayatkan oleh orang banyak, yang jumlahnya tidak memungkinkan oleh mereka untuk bersepakat melakukan kedustaan; yang diriwayatkan oleh mereka dari orang banyak, seperti mereka dari awal sanad sampai akhir sanad”

Secara Definitif Hadits Mutawwatir adalah:

“Suatu hasil tanggapan panca indera yang diriwayatkan oleh sejumlah besar rawi, yang menurut adab kebiasaan mustahil mereka berkumpul dari bersepakat dusta”.

b). Kriteria Hadits Mutawwatir.
Kriteria Hadits Mutawwatir adalah sebagai berikut:

  • Perawinya terdiri atas jumlah yang banyak, sekurang-kurangmya menurut sebagian ulama Hadits adalah 10 (sepuluh) orang.
  • Periwayatan harus berdasarkan tanggapan panca indera.
  • Jumlah perawinya mencapai ketentuan yang menurut adab mustahil mereka dapat bersepakat untuk berbuat dusta.
  • Jumlah rawi harus seimbang dalam thabaqat (lapisan) pertama, dengan jumlah rawi dalam thabaqat (tingkatan) sanad berikutnya.

c). Pembagian Hadits Mutawwatir.
Hadits Mutawwatir terbagi 2:
* Hadits Mutawwatir Lafdhi.
* Hadits Mutawwatir Ma’nawi.

  • Hadits Mutawwatir Lafdhi;  adalah:

“Hadits yang diriwayatkan dengan satu lafadz oleh sejumlah perawi, yang menurut adab mustahil  mereka sepakat untuk berdusta”.

Contoh:

“Barangsiapa yang berdusta atas namaku dengan sengaja maka hendaklah dia menduduki tempatnya di neraka”.

Hadits ini diriwayatkan oleh lebih dari 62 orang sahabat, dengan susunan redaksi (lafadz) dan makna yang sama.

  • Hadits Mutawwatir Ma’nawi;  adalah:

“Sejumlah perawi yang mustahil bersepakat dusta meriwayatkan beberapa peristiwa yang berbeda, namun hakekat permasalahannya adalah sama, maka jadilah permasalahannya itu mutawwatir”  (Mutafaq alaih).

Contoh:

Telah diriwayatkan lebih dari 100 Hadits tentang Nabi SAW mengangkat tangan ketika berdoa dengan lafadz yang berbeda-beda, masing-masing lafadz tersebut sampai dengan derajat Mutawwatir, tetapi makna dari keseluruhan lafadz itu tertuju kepada satu makna. Sehingga secara maknawi Hadits tersebut Mutawwatir !

“Adalah Nabi SAW tidak mengangkat tangan dalam berdoa, kecuali dalam sholat Istisqa’, dan Rasululloh mengangkat tangannya hingga tampak putih kedua ketiaknya”.

“Adalah Rasululloh SAW mengangkat tangan sejajar dengan kedua pundaknya” ( Hadits Riwayat Ahmad, Al-Hakim dan Abu Dawud).

Hukum Hadits Mutawwatir

*Status dan Hukum Hadits Mutawwatir adalah Qath’i Al-Wurud (pasti keberadaannya).
*Menghasilkan Ilmu yang Dharuri (pasti).
*Oleh karena itu Wajib untuk ummat Islam menerima dan mengamalkannya!

2. Hadits Ahad.

a). Ta’rif/ Pengertian Hadits Ahad.

Kata Ahad berarti Satu (1). Kabar/ Berita  Wahid  adalah berita yang diriwayatkan oleh satu orang. Menurut istilah Ahli Hadits, Hadits Ahad berarti:

“Hadits yang diriwayatkan oleh satu orang perawi, dua atau lebih selama memenuhi syarat-syarat Hadits Mutawwatir Masyhur atau Hadits Mutawwatir”.

“Hadits yang tidak memenuhi syarat Mutawwatir”.

b). Kriteria Hadits Ahad.
Hadits Ahad adalah Hadits yang jumlah perawinya tidak mencapai jumlah yang terdapat pada Hadits Mutawwatir.

c). Pembagian Hadits Ahad.
Hadits Ahad terbagi  3:
* Hadits Ahad Masyhur.
* Hadits Ahad Azis.
* Hadits Ahad Gharib.

  • Hadits Ahad Masyhur,

Secara bahasa kata Masyhur adalah isim maf’ul dari syahara = al-Dhuhur = nyata.

Menurut istilah Hadist Ahad Masyhur adalah:

“Hadits yang diriwayatkan oleh 3 orang perawi atau lebih pada setiap (thabaqat) tingkatan sanad, dan belum sampai tingkat Mutawwatir”.

Hadits Ahad Masyhur dapat dibedakan sebagai berikut.

1. Hadits Ahad Masyhur dikalangan ahli Hadits. Contoh:

“Bahwa Nabi SAW ber-Qunut sebulan lamanya, setelah ruku’ , untuk mendoakan tindakan kejahatan Ri’lim dan Dzakwan”. (HR. Bukhari dan Muslim).

2. Hadits Ahad Masyhur dikalangan ahli Fiqih. Contoh:

“Perbuatan halal yang paling dibenci Alloh adalah thalaq”.  (HR. Abu Dawud dan Ibn Majah).

3. Hadits Ahad Masyhur dikalangan ulama Ushul Fiqh. Contoh:

“Diangkat hukuman dari umatku karena bersalah tidak disengaja, lupa dan perbuatan yang dilakukan karena terpaksa”. (HR. Ibn Majah).

4. Hadits Ahad Masyhur dikalangan Awam. Contoh:

“Tergesa-gesa itu adalah dari perbuatan syaithan”. (HR. at Turmudzi).

“Untuk si peminta-minta itu ada hak walaupun datang dengan kuda”.

5. Hadits Ahad Masyhur di semua kalangan tersebut di atas. Contoh:

“Muslim yang sebenarnya itu adalah orang yang menyelamatkan sesama Muslim lainnya dari gangguan lidah dan tangannya”. (HR. Bukhari dan Muslim).

Hukum Hadits Ahad Masyhur

* Hadits Ahad Masyhur itu diantaranya ada yang berstatus Shahih, Hasan, Dha’if, dan Maudhu’.
* Apabila Hadits Ahad Masyhur itu berderajat Shahih maka hukumnya lebih kuat dari Hadits Ahad Azis dan Hadits Ahad Gharib.

  •  Hadits Ahad Azis.

Menurut bahasa Azis adalah sifat musyabahat dari kata  ‘azza – ya ‘izzu = qalla/ nadara = sedikit/ jarang,  atau berasal dari kata   ‘azza ya ‘azzu  =  qawiyya dan isytadda = kuat dan sangat.

Menurut istilah ilmu Hadits:

“Bahwa tidak kurang perawinya dari 2 orang pada seluruh tingkatan sanad”.

Contoh Hadits Ahad Azis:

“Tidaklah sempurna iman seseorang dari kalian sehingga Aku lebih dicintainya daripada dia mencintai orang tua, anak-anak, dan manusia seluruhnya”. (HR. Bukhari dan Abi Hurairah).

  • Hadits Ahad Gharib.

Menurut bahasa Gharib adalah sifat musyabahat dari gharaba = al-Munfarid/ al Ba’iid ‘an aqaaribihi, yaitu  ‘Yang Menyendiri jauh dari kerabatnya’.

Menurut istilah ilmu Hadits, Hadits Ahad Gharib adalah:

“Hadits yang dalam sanad nya terdapat seorang yang menyendiri dalam meriwayatkan ; dimana saja penyendirian itu terjadi”.

atau

“Hadits yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya”.

Catatan:
Setiap Hadits yang diriwayatkan oleh seorang perawi, baik pada setiap tingkatan sanad atau pada sebagian tingkatan sanad dan dapat juga  hanya pada satu tingkatan sanad maka Hadits itu disebut Gharib.

Hadits Ahad Gharib dibagi atas 2:
* Hadits Ahad Gharib Muthlak (Fard).
* Hadits Ahad Gharib Nisbi.

*Hadits Ahad Gharib Muthlak (fard), adalah:

“Hadits yang menyendiri seorang perawi dalam periwayatannya pada asal sanad”.

Contoh:

“Sesungguhnya seluruh amal tergantung niat…”. (Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Umar Ibn Khatab sendiri pada tingkat Sahabat).

Hadits ini Gharib pada awalnya, tetapi Masyhur pada akhirnya.

Contoh Sanad Hadits Ahad Gharib Muthlak, yang hampir semua perawinya menyendiri:

*Hadits Ahad Gharib Nisbi, adalah:

“Hadits yang terjadi Gharib ditengah sanadnya”.

atau

” Apabila penyendirian itu tentang sifat-sifat atau keadaan tertentu seorang perawi”.

Penyendirian  tentang sifat-sifat atau keadaan tertentu dari seorang perawi ada beberapa kemungkinan, salah satunya adalah:

Tentang sifat ke-Tsiqahan (Keadilan) dan ke-Dhabitan Rawi.

Contoh:

Hadits Muslim tentang pertanyaan Umar Ibn Khatab r.a; kepada Abu Waqid al Laitsy, perihal surat-surat apa yang dibaca Nabi SAW pada shalat ‘Idayn, Jawab Abu Waqid:

“Adalah Nabi SAW pada shalat  Id al-‘Adha  dan al-Fitri, membaca surat Qaf dan al-Qamar”.

,

,

III. KLASIFIKASI HADITS BERDASARKAN KUALITAS SANAD DAN MATAN.

Hadits ditinjau dari segi kualitas sanad dan matan atau berdasarkan kuat dan lemahnya; terbagi 2:   Hadits Maqbul dan Hadits Mardud.

1. Hadits Maqbul.

Adalah Hadits yang memenuhi syarat-ayarat Qabul (diterima) sebagai dalil hukum atau untuk beramal dengannya. Yaitu:    SHAHIH  dan  HASAN.

2. Hadits Mardud.

Adalah Hadits yang tidak memenuhi syarat-syarat Qabul/ tidak diterima sebagai dalil hukum untuk beramal dengannya. Yaitu:   DHA’IF.

* Hadits SHAHIH.
Hadits Shahih adalah:

“Hadits yang diriwayatkan oleh perawi yang adil, empurna ingatannya, sanadnya bersambung, tidak ber-‘illat dan tidak janggal”.

Hadits Shahih terbagi 2 macam:
1. Shahih  Li Dzatihi,
2. Shahih  Li Ghoirihi.

“Shahih  Li Dzatihi” artinya:  Yang sah karena dzatnya, yaitu yang shohih dengan tidak ada bantuan keterangan lain.

Syarat-syarat Hadits Shahih  Li  Dzatihi.

a). Perawinya bersifat adil.

Islam, Baligh, Berakal, Ta’at agama, Tidak melakukan perbuatan fasiq dan tidak rusak muru’ah nya;  Tidak selalu melakukan dosa kecil, Tidak berbuat bid’ah, Tidak maksiat, Menjauhi semua hal yang pada dasarnya boleh tetapi dapat merusak muru’ah, Baik Akhlaq nya, Dapat dipercaya beritanya,  dan  Biasa berpijak kepada kebenaran.

b). Perawinya Dhabith (Kuat hafalan/ ingatan).

  • Ketelitian dalam menerima Hadits.
  • Memahami apa yang didengar.
  • Mampu mengingat dan menghapal sejak menerima sampai pada meriwayatkan Hadits atau mampu menjaga/ memelihara Hadits yang ada catatannya dari kekeliruan, atau terjadinya pertukaran, pengurangan, dan sebagainya.
    • Dhabit Shadran :  Mengandalkan kekuatan hafalan/ ingatan.
    • Dhabit Kitaban :  Mengandalkan kerapihan dan ketelitian tulisan/ catatan.

c). Sanad perawi harus bersambung.

Setiap perawi menerima secara langsung dari perawi diatasnya, dari awal sampai akhir sanad.

d). Hadits tersebut SELAMAT dari illat (yang merusak).

Yaitu suatu penyakit yang samar-samar, yang dapat melemahkan atau menodai Hadits. Jadi maksudnya : Hadits tersebut terlihat sebagai Hadits Shahih, namun apabila diteliti akan terlihat cacat yang merusak Hadits tersebut;  misalnya:  Hadits Mursal (gugur seorang sahabat yang meriwayatkan),  atau  Munqathi’  (Terputus sanad).

e). Hadits tersebut tidak  Syadz (Janggal).

Contoh:
(Bukhori berkata):  Telah menceritakan kepada kami, Abdullah bin Yusuf, ia berkata:  Telah mengkabarkan kepada kami, Malik, dari Nafi, dari Abdullah, bahwa Rasululloh SAW bersabda:  “Apabila mereka itu bertiga orang, janganlah 2 orang (diantaranya) berbisik-bisik dengan tidak bersama yang ketiganya”.

Rawi-rawi yang ada dalam sanad Hadits di atas, kalau disusun dengan tertib, akan menjadi seperti berikut:
1. Rasululloh SAW.
2. Abdullah (Ibnu Umar).
3. Nafi’.
4. Malik.
5. Abdullah bin Yusuf.(Ibnu Umar).
6. Al Bukhori.

Keterangan:

a) Kalau diperiksa sanad tersebut, dari Al Bukhori sampai Nabi SAW;  akan dapat bersambung dari seorang rowi kepada yang lain, karena Al Bukhori mendengar dari Abdullah; Abdullah ini mendengar dari Malik; Malik ini mendengar dari Nafi’; Nafi ini mendengar dari Abdullah (Ibnu Umar); Abdullah (Ibnu Umar) ini mendengar dari Rasululloh SAW.

b)Rawi-rawi  No.6   s/d  No.2 tersebut, semua bersifat: Adil, Terpercaya dan Dhabith dengan sempurna.

c) Hadits ini tidak terdapat Syudzudz nya, yaitu tidak menyalahi Hadits yang derajatnya lebih kuat, dan tidak ada illat-nya, yaitu kekeliruan, kesalahan etc; yang menyebabkan Hadits itu tercela.

Kesimpulannya, Hadits tersebut mempunyai syarat-syarat seperti tertulis dalam makna (ta’rif) yang tercantum di atas.

,

Contoh Hadits Shahih  li dzatihi:

1. “Dari Malik, dari Nafi’, dari Ibnu Umar, bahwa Rasululloh SAW bersabda:  Apabila salah seorang dari pada kamu (akan) shalat Jum’at, hendaklah ia mandi (dahulu)”.

,

2. “Dari Abi Hurairah, bahwa Rasululloh SAW; bersabda:  “Tidak seorangpun yang menyedekahkan sebiji Kurma dari usaha yang baik, melainkan akan diterima oleh Alloh dengan Kanan Nya.  Lalu ia akan menjadikannya bertambah sebagaimana salah seorang dari kamu mendidik anak kuda nya atau anak Unta nya, sehingga jadilah ia seperti gunung atau lebih besar”. (H.R. Muslim).

,

3.“Telah bersabda Rasululloh SAW:  Lima perkara masuk bilangan agama. 1. Mencukur rambut kemaluan. 2. Berkhitan. 3. Menggunting Kumis. 4. Mencabut rambut Ketiak. dan 5. Memotong Kuku”.  (Al Jama’ah).

,

4.“Telah bersabda Rasululloh SAW:  Tidak ada satupun perkara yang lebih berat dalam timbangannya, daripada kelakuan yang baik”.  (Abu Daud dan At Tirmidzi).

,

“Shahih  Li Ghoirihi” artinya: Yang Shohih karena ada yang lainnya, yaitu menjadi sah karena dikuatkan dengan jalan (sanad) atau keterangan lain.

,

Shohih  Li Ghoirihi, menurut ketetapan ahli Hadits ada bermacam-macam, yaitu:
a. Hadits Hasan  Li Dzatihi, dikuatkan dengan jalan lain yang sama derajatnya.
b. Hadits Hasan  Li Dzatihi, dibantu dengan beberapa sanad, walaupun sanadnya berderajat lebih rendah.
c. Hadits Hasan  Li Dzatihi, atau Hadits lemah yang isinya setuju dengan salah satu ayat Al-Qur’an, atau yang cocok dengan salah satu dari pokok  agama.
d. Hadits yang tidak terlalu kuat, tetapi diterima oleh para ulama.

,

Berikut ini, contoh dan keterangan tiap-tiap satu dari a, b, c, dan d, tersebut.

Contoh untuk  (a):

(Al Bukhori berkata:); ” Telah menceritakan kepada kami,  Amr bin Ali, ia berkata: Telah menceritakan kepada kami, Abu Qutaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami, Abdurrahman bin Abdillah bin Dinar, dari bapaknya, ia berkata: “Aku pernah mendengar Ibnu Umar meniru Syi’ir Abu Tholib …”.  (Shohih Bukhori, 2:27).

Keterangan:

Susunan sanad riwayat di atas, kalau kita susun menjadi begini;
1. Ibnu Umar.
2. Bapaknya(yaitu, Abdullah bin Dinar).
3. Abdurrahman bin Abdullah bin Dinar.
4. Abu Qutaibah.
5. Amr bin Ali.
6. Al Bukhori.

Sanad riwayat ini bersambung dari no. 6 sampai mo.1, dan rawi-rawi nya orang terpercaya dengan sempurna, hanya  Abdillah bin Dinar, no. 2, (Tah-dzibut-Tahdzib, 6:106) saja derajatnya ada kekurangan dari yang lainnya, tetapi tidak lemah.

Maka Martabat sanad yang begini rupanya, dinamakan: Hasan  Li Dzatihi.

Riwayat tersebut ada juga diceritakan oleh Imam Ibnu Majah, dalam kitab Hadits nya, (Sunan Ibnu Majah, 1:385); Susunan sanadnya adalah:
1. Bapaknya (Ibnu Umar).
2. Salim.
3. Umar bin Hamzah.
4. Abu Aqil.
5. Abun Nadhr.
6. Ahmad bin Al Azhar.
7. Ibnu Majah.

Riwayat Ibnu Majah ini, sanadnya bersambung. Rawi no. 7, 5, 4, 2, dan 1, terpercaya.  Sedangkan rawi no. 6, dan no. 3, (Tah-dzibut-Tah-dzib, 7:437), martabatnya  kurang sedikitdari lima rowi lainnya, tetapi tidak lemah.  Maka ysng seperti ini juga dinamakan:  Hasan  Li Dzatihi.

Ringkasnya: Hasan Li Dzatihi riwayat Ibnu Majah sama derajatnya dengan Hasan Li Dzatihi riwayat Al-Bukhori.  Dua sanad tersebut menunjukkan bahwa Hasan Li Dzatihi dari riwayat Al-Bukhori dikuatkan dengan Hasan Li Dzatihi dari riwayat Ibnu Majah.  Yang seperti ini dinamakan:  “Shahih Li Ghoirihi”.

Contoh untuk (b):

(Berkata At Tirmiszi): “Telah menceritakan kepada kami, Muhammad bin Basysyar, (ia berkata): Telah menceritakan kepada kami, Abdurrahman, (ia berkata): Telah menceritakan kepada kami, Sufyan, dari Abdullah bin Muhammad bin Aqil, dari Muhammad bin al Hanafiyyah, dari Ali, dari Nabi SAW, beliau bersabda: Pembuka sholat itu adalah bersuci, dan memasukkan (seseorang) kedalam sholat adalah Takbir, dan yang mengeluarkan (seseorang) dari sholat itu adalah Salam”.

Susunan sanadnya adalah:
1. Nabi Muhammad SAW.
2. Ali.
3. Muhammad bin Al-Hanafiyyah.
4. Abdullah bin Muhammad.
5. Sufyan.
6. Abdurrahman.
7. Muhammad bin Basysyar.
8. At Tirmidzi.

Keterangan:

Rawi-rawi yang ada dalam sanad ini, semua orang-orang terpercaya, kecuali Abdullah bin Muhammad bin Aqil saja, walaupun dia seorang yang benar, tetapi tentang hafalannya – kuat tidaknya daya ingat – masih dalam perselisihan, karena diantara Ulama ada yang menganggap hafalannya tidak kuat, dan ada yang menganggap kuat (Tah-dzibut- Tah-dzib, 6:15).

 

 

 

 

*Hadits HASAN.
Hadits Hasan adalah:

“Hadits yang bersambung sanadnya, diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil, yang kurang daya ingat (hafalannya), dari periwayat semisalnya hingga ke sanad terakhirnya (mata rantai terakhir), tidak terdapat kejanggalan (Syudzûdz) ataupun ‘Illat di dalamnya.”

,

* Hadits DHA’IF.
Hadits Dha’if adalah:

“Hadits dhaif itu masih punya sanad kepada Rasulullah SAW, namun di beberapa rawi ada dha`f atau kelemahan. Kelemahan ini tidak terkait dengan pemalsuan Hadits, tetapi lebih kepada sifat yang dimiliki seorang rawi dalam masalah dhabit atau al-`adalah. Mungkin sudah sering lupa atau ada akhlaqnya yang kurang terpuji” .

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: